New Page 1

"kita hidoep dari sedjarah & kita hidoep oentoek memboeat sedjarah"



Wednesday, May 18, 2005
.

" BENTENG BALUWERTI "


Benteng keraton itu disebut Baluwerti yang diambil dari kata ba (yang berarti jatuh), lu (lulu atau peluru), dan warti (hujan). Dari arti kata itu maka benteng tersebut dibangun memang untuk menahan serangan musuh yang menggunakan peluru yang jatuhnya seperti hujan.
Dari pelacakan sejarah diketahui bahwa benteng itu dibangun atas prakasra Pangeran Adipati Anom, putra mahkota Sultan Hamengku Buwono I (Pangeran Mangkubumi). Sultan HB I bertakhta di Yogyakarta sejak tahun 1755 yang merupakan buntut dari pecahnya Kerajaan Mataram.
Berdasarkan perjanjian Giyanti, maka Mataram dipecah menjadi dua, di sisi timur adalah Kasunan Surakarta, dan di sisi barat Kasultanan Yogyakarta.
Benteng tersebut dibangun bukan karena masih ada perseteruan tajam dua kerajaan itu, akan tetapi dipicu oleh pembangunan benteng Kompeni Belanda (VOC) Vredeburg di sisi utara Keraton Yogyakarta pada tahun 1765.

Jangkauan Tembakan Meriam
Pihak Keraton Yogyakarta sadar bahwa pembangunan benteng sekaligus tangsi militer di Vredeburg adalah untuk mengawasi pergerakan kekuatan keraton. Oleh karena itulah Adipati Anom membuat benteng tandingan pada tahun 1785 yang mengelilingi keraton. Tujuannya satu, siap menggempur balik bila Belanda berani menyerang keraton. Benteng itu memang dibangun untuk menantang kepongahan penjajah Belanda.
Asal tahu saja, jarak Benteng Vredeburg dengan keraton Yogyakarta adalah sejauh jarak jangkau tembakan meriam masa itu.
Benteng dengan lima pintu gerbang melengkung masuk itu dikelilingi selokan yang luas disebut “jagang”. Satu-satunya akses jalan menuju keraton harus melalui lima pintu tersebut yang ada jembatan gantungnya. Pintu gerbang pun dibuat amat kokoh.
Pintu gerbang yang melengkung itulah yang disebut Plengkung oleh lidah orang Jawa. Di sisi utara ada gerbang utama disebut Regol Pangurakan (di utara Alun-alun Utara), kemudian ada gerbang Kyai Dewandaru di sisi barat, Kyai Wijayadaru di sisi timur, dan Plenkung Lirboyo atau Plengkung Gading di sisi selatan.
Pada bulan November 1809 Adipati Anom yang kemudian bertakhta dan bergelar Sultan Hamengku Buwono II memperkuat benteng dengan pojok benteng diperluas 5–6 meter untuk mempersiapkan jika sewaktu-waktu bala tentara Belanda di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Daendeles menyerang keraton. Di sisi tenggara keraton ada bangunan bernama Bastion Tanjung Anom. Letaknya berada di dekat istana mahkota yang dilengkapi dengan gudang mesiu. Wong Jawa menyebut gudang mesiu itu sebagai Gedhong Obat.
Kemegahan benteng lengkap dengan selokan dan jembatan gantungnya, konon, masih berfungsi hingga pertengahan abad ke-19. Seiring dengan perkembangan zaman, selokan itu akhirnya tidak ada, bahkan kini tidak ada lagi pintu di gerbang yang kokoh. Gerbang itu akhirnya hanya berupa lengkung besar yang di bawahnya merupakan jalan beraspal yang digunakan lalu lalang berbagai kendaraan. Semua bangunan di dalam benteng kini sudah menyatu dengan Kota Yogyakarta.

(SH/SU Herdjoko) Pernah dimuat di Sinar Harapan, 2002


pic & photos from KITLV & dari segala sumber


Posted at 12:16 pm by mbahbuyut
Comment (1)  




Wednesday, March 30, 2005
Tjerita pertamA "dewi sri"

kotjap katjarita....." yen mangan, sego-ne' kudu dientekke yo le...!!! ngko ndak sego-ne' nangis...." (tjerita tentang mengapa anak ketjil tidak boleh menyisakan nasinya ketika sedang makan)

"kisah sebutir padi"

Dalam serat babad ila-ila disebutkan : Dewi Sri dan Raden Sadhana adalah kakak beradik. Karena mereka tidak mau tinggal di kraton, maka oleh ayahandanya Prabu Purwacarita mereka dikutuk, Dewi Sri menjadi ular sawah dan Raden Sadhana menjadi burung Sriti. Kemudian mereka pergi entah kemana. Perjalanan dewi sri atau ular sawah lebih banyak halangan daripada raden Sadhana sebagai  burung Sriti . Akhirnya Ular sawah sampai di negeri wirata, berhenti sebentar didusun Wasutira lalu tidur melingkar ditengah-tengah padi. Didusun Wasutira inilah Ular sawah diletakkan di Petanen. Ular sawah itu nantinya akan menjaga bayi yang dikandung oleh Ken Sanggi atau istri dari Kyai Brikhu, sebab bayi yang dikandung itu adalah titisan Dewi Tiksnawati.

Apabila ular itu mati , maka bayi itu juga akan mati. Demikianlah pada malam hari Ken Sanggi melahirkan anak perempuan dengan selamat. Maka Kyai Brikhu dalam memelihara ular sawah itu sangat berhati-hati jangan sampai mati. Sewaktu Kyai Brikhu tertidur , ular sawah itu seakan-akan berkata agar jangan diberi makan katak melainkan sesaji berupa sirih ayu, bunga serta lampu yang menyala terus. Setelah kyai Brikhu terbangun dari tidur langsung menyiapkan sesaji seperti apa yang diminta ular sawa tadi. Dewi Tiksnawati yang menitis pada tubuh bayi itu membuat huru hara di tempat kediaman dewa-dewa karena Dewi Tiksnawati tanpa memberi tahu atau ijin dari Sang Hyang Jagadnata. 

Sang Hyang Jagadnata menjadi murka dan mengutus para dewa untuk memberi bancana pada sang Bayi. Akan tetapi gagal karena kena pengaruh tolak bala yang diberi kan Kyai Brikhu dari Ular sawa tadi. Setelah beberapa kali gagal tahulah Sang Hyang Jagadnata bahwa semua itu berasal dari Dewi Sri. Kemudian Sang Hyang Jagadnata atau Batara Guru mengutus para bidadari untuk memanggil Dewi Sri. 

Dia akan dijadikan bidadari untuk melengkapi bidadari yang ada dikhayangan. permintaan Sang Hyang Jagadnata diterima oleh Dewi Sri, akan tetapi ia mohon agar Raden Sadhana yang dikutuk menjadi burung Sriti agar dapat diruwat menjadi manusia kembali. Ternyata Raden Sadhana telah diruwat menjadi manusia oleh Bagawan Brahmana Marhaesi putra dari Sang Hyang Brahma. Kemudian Raden Sadhana dikawinkan dengan putri yang bernama Dewi Laksmitawahni. Apabila telah berputra, Raden Sadhana akan diangkat menjadi dewa. Kemudian ular sawa diruwat menjadi Dewi Sri kembali oleh para bidadari. 

Sepeninggal para bidadari, Kyai Brikhu ketika tengah membersihkan petanen terkejut melihat ular sawa lenyap. Yang ada hanya seorang wanita cantik. Kyai Brikhu akhirnya tau bahwa Dewi Sri adalah putri dari Prabu Mahapunggung dinegeri Purwacarita. Sebelum Dewi Sri meninggalkan Kyai Brikhu dan keluarganya dia berpesan agar memberikan sesajen didepan petanen atau kamar tengah agar sandang pangannya tercukupi.setelah itu Dewi Sri moksa dan juga Raden Sadhana kembali ke khayangan. Itulah sebabnya pada sethong tengah pada rumah jawa selalu diberi gambar ular naga sebagai lambang kewanitaan. Yaitu Dewi Sri yang memberikan kemakmuran. Para petani apabila ada ular sawah masuk kedalam rumah dijadikan pertanda bahwa sawahnya akan diberikan hasil yang baik. atau banyak rejeki. Karenanya mereka tidak mau mengganggu ular sawah dan memberi sesaji.

(Diambil dari serat babad ila-ila. Alih bahasa oleh Mulyono sastro naryatno. Serat babad ila-ila , jilid I, proyek penerbiitan buku sastra dan daerah , jkt 1986, hal 57-63)



















pic.& photos from KITLV


Posted at 09:46 am by mbahbuyut
Comment (1)  





sedjak boelan maret_taoen'05

satoe orang mata2 kompeni lagie ngintip



"...daripada mumet2...mendhing ngeluarken segala uneg2..."


   






* Jogja old photos
* Old film archief
* Old film clip
* Old film list
* Duit Jowo-Indisch

* Kamoes (Indo-Dutch)
* Map van Indonesia

* Resonansi
* Taushiyah
* Wonder of Qur'an

* Jogja Film Doc.
* Jogja Calender Events
* Gending Jowo
* Gending Dolanan
* Kraton Ngayogyakarta


links jang berisi matjam2 Official Site's jang dimiliki Eikh poenja kawan ("samboeng-menyamboeng menjadi satoe")


links-links-links-1001 links-most wanted links-favourite links-links collection-great sites of de world


low PROfile of me "dari oedjoeng ramboet sampe ke djempol kakie"







If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed