" BENTENG BALUWERTI "
Benteng keraton itu disebut Baluwerti yang diambil dari kata ba (yang berarti jatuh), lu (lulu atau peluru), dan warti (hujan). Dari arti kata itu maka benteng tersebut dibangun memang untuk menahan serangan musuh yang menggunakan peluru yang jatuhnya seperti hujan.
Dari pelacakan sejarah diketahui bahwa benteng itu dibangun atas prakasra Pangeran Adipati Anom, putra mahkota Sultan Hamengku Buwono I (Pangeran Mangkubumi). Sultan HB I bertakhta di Yogyakarta sejak tahun 1755 yang merupakan buntut dari pecahnya Kerajaan Mataram.
Berdasarkan perjanjian Giyanti, maka Mataram dipecah menjadi dua, di sisi timur adalah Kasunan Surakarta, dan di sisi barat Kasultanan Yogyakarta.
Benteng tersebut dibangun bukan karena masih ada perseteruan tajam dua kerajaan itu, akan tetapi dipicu oleh pembangunan benteng Kompeni Belanda (VOC) Vredeburg di sisi utara Keraton Yogyakarta pada tahun 1765.
Jangkauan Tembakan Meriam
Pihak Keraton Yogyakarta sadar bahwa pembangunan benteng sekaligus tangsi militer di Vredeburg adalah untuk mengawasi pergerakan kekuatan keraton. Oleh karena itulah Adipati Anom membuat benteng tandingan pada tahun 1785 yang mengelilingi keraton. Tujuannya satu, siap menggempur balik bila Belanda berani menyerang keraton. Benteng itu memang dibangun untuk menantang kepongahan penjajah Belanda.
Asal tahu saja, jarak Benteng Vredeburg dengan keraton Yogyakarta adalah sejauh jarak jangkau tembakan meriam masa itu.
Benteng dengan lima pintu gerbang melengkung masuk itu dikelilingi selokan yang luas disebut “jagang”. Satu-satunya akses jalan menuju keraton harus melalui lima pintu tersebut yang ada jembatan gantungnya. Pintu gerbang pun dibuat amat kokoh.
Pintu gerbang yang melengkung itulah yang disebut Plengkung oleh lidah orang Jawa. Di sisi utara ada gerbang utama disebut Regol Pangurakan (di utara Alun-alun Utara), kemudian ada gerbang Kyai Dewandaru di sisi barat, Kyai Wijayadaru di sisi timur, dan Plenkung Lirboyo atau Plengkung Gading di sisi selatan.
Pada bulan November 1809 Adipati Anom yang kemudian bertakhta dan bergelar Sultan Hamengku Buwono II memperkuat benteng dengan pojok benteng diperluas 5–6 meter untuk mempersiapkan jika sewaktu-waktu bala tentara Belanda di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Daendeles menyerang keraton. Di sisi tenggara keraton ada bangunan bernama Bastion Tanjung Anom. Letaknya berada di dekat istana mahkota yang dilengkapi dengan gudang mesiu. Wong Jawa menyebut gudang mesiu itu sebagai Gedhong Obat.
Kemegahan benteng lengkap dengan selokan dan jembatan gantungnya, konon, masih berfungsi hingga pertengahan abad ke-19. Seiring dengan perkembangan zaman, selokan itu akhirnya tidak ada, bahkan kini tidak ada lagi pintu di gerbang yang kokoh. Gerbang itu akhirnya hanya berupa lengkung besar yang di bawahnya merupakan jalan beraspal yang digunakan lalu lalang berbagai kendaraan. Semua bangunan di dalam benteng kini sudah menyatu dengan Kota Yogyakarta.
(SH/SU Herdjoko) Pernah dimuat di Sinar Harapan, 2002



pic & photos from KITLV & dari segala sumber
Posted at 12:16 pm by mbahbuyut
Permalink